Postingan Populer

Minggu, 12 Februari 2023

Legenda Sangkuriang dan Transformasinya dalam Karya Sastra

 

sumber gambar: https://www.dailysia.com/

Legenda Sangkuriang telah menjadi legenda yang paling dikenal masyarakat Sunda (Jawa Barat). Legenda ini menjadi legenda yang selalu dihubung-hubungkan dengan asal mula Gunung Tangkuban Prahu dan Lembah Bandung. Legenda Sangkuriang memiliki beberapa versi yang berbeda. Versi-versi ini terbentuk karena sifatnya yang dinamis dalam tradisi lisan. Legenda Sangkuriang mengalami transformasi tidak hanya ke dalam bentuk sastra tulis, tetapi bertransformasi pula ke dalam bentuk drama dan film.

Legenda Sangkuriang dapat dikatakan sebagai sebuah gambaran masyarakat Sunda yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan kesopanan serta penolakan mereka terhadap inses. Sebab, dalam beberapa versinya Sangkuriang selalu gagal menikahi Dayang Sumbi yang notabene adalah ibu kandungnya sendiri. Transformasi Legenda Sangkuriang dari tradisi lisan menjadi tradisi tulis/cetak, memiliki keunikan tersendiri. Artinya, perbedaan ataupun persamaan antara keduanya sangat menarik untuk diteliti. Kita akan ”menemui” Sangkuriang dari versi lisan dengan Sangkuriang versi Utuy Tatang Sontani, Sang Kuriang, yang sudah jelas-jelas merupakan transformasi dari versi legenda lisannya.

Pada versi tradisi lisan yang berkembang di masyarakat, Sangkuriang digambarkan sebagai sosok laki-laki sakti mandaraguna, dia adalah pemimpin para siluman, dia mampu membendung Sungai Citarum untuk dibuat telaga dan dia juga sanggup membuat perahu hanya dalam waktu semalam. Berbeda dengan penggambaran Sangkuriang versi Utuy Tatang Sontani, Sang Kuriang, Sangkuriang digambarkan sebagai seorang tokoh manusia yang mempunyai keteguhan dan prinsip yang kuat, dia tidak sakti, dia bukan pemimpin para siluman, dia hanya manusia yang sedang mencari kebenaran.

            Perbedaan penggambaran tersebut merupakan buah dari transformasi yang dilakukan Utuy pada drama yang ditulisnya. Utuy melihat bahwa dalam teks lisan, Sangkuriang menjadi tokoh antagonis yang selalu salah (pada berbagai versi tradisi lisan). Dalam dramanya, Utuy mengubah citra Sangkuriang sebagai tokoh antagonis menjadi tokoh yang kuat, teguh, dan mempunyai prinsip. Sangkuriang berani melamar Dayang Sumbi karena keyakinannya kalau Dayang Sumbi bukan ibunya. Alasan keyakinan Sangkuriang sangat berdasar, dia mengatakan bahwa kelahiran dirinya tidak disaksikan oleh orang lain. Sehingga dia sangat patut “curiga” akan kebenaran legenda bahwa dia adalah anak Dayang Sumbi dan Bujang tunadaksa (Tumang).

Keteguhan prinsip Sangkuriang versi Utuy ini dapat dilihat sampai akhir teks drama yang ditulisnya yaitu ketika Sangkuriang memilih mengakhiri hidupnya dengan menusukkan kujang yang juga digunakan Dayang Sumbi. Peristiwa ini mengingatkan kita pada peristiwa hara-kiri di Jepang. Upaya bunuh diri di Jepang adalah upaya untuk menyelamatkan prinsip dan harga diri serta keteguhan keyakinan yang dianut dan itu pula yang dilakukan oleh Sangkuriang pada teks drama Utuy.

Transformasi yang dilakukan Utuy dalam naskah drama Sang Kuriang menjadi antitesis dalam legenda versi tradisi lisan. Sangkuriang digambarkan dalam dua kutub yang berbeda. Keduanya seperti tarik-menarik dalam alur dan sekuen legenda sehingga ciri-ciri dari legenda tersebut tetap ada. Hal yang paling unik dari kedua certita tersebut adalah penolakan terhadap inses. Legenda Sangkuriang menjadi salah satu penjaga norma tentang tidak diperkenankannya inses dalam budaya Sunda. Hal ini tergambar dalam legenda Sangkuriang versi tradisi lisan ataupun versi transformasinya.


Disarikan oleh

Heri Isnaini

Sabtu, 11 Februari 2023

Konsep Cinta Puisi-Puisi SDD

 

Sumber gambar: https://www.kompas.com/parapuan/image/533546577

Artikel ini membahas konsep  cinta pada puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono. Konsep cinta seperti yang dikemukakan oleh Erich Fromm merupakan jawaban atas masalah pada eksistensi manusia. Konsep cinta yang universal dapat dilihat sebagai seni kehidupan (art of life) yang meliputi: cinta manusia kepada manusia, cinta manusia kepada alam, dan cinta manusia kepada tuhan. Masalah yang muncul dalam artikel ini adalah: bagaimana konsep cinta direpresentasi dalam puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono; serta bagaimana pemaknaan konsep cinta tersebut dilihat dari penggunaan tanda-tanda di dalam puisi. Berdasarkan permasalahan tersebut, konsep cinta  akan dibahas  pada kekuatan tanda yang hadir di dalam puisi.  Tanda-tanda tersebut kemudian dianalisis berdasarkan teori semiotika yang dikemukakan oleh Pierce, yakni dengan memperhatikan  representament, object, dan  interpretant. Di samping itu, artikel ini juga menunjukkan  hubungan (relasi) tanda dengan teks lain  dan penggunaan gaya bahasanya.  Pembahasan-pembahasannya kemudian bermuara pada pemaknaan  konsep  cinta yang terdapat pada puisi-puisi karya  Sapardi Djoko  Damono.  Akhirnya, pemaknaan konsep  cinta ini dapat dilihat sebagai konsep universal yang merujuk pada keperiadaan manusia sebagai bentuk eksistensinya di dunia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep cinta pada puisi-puisi Sapardi Djoko Damono ditemukan dalam tataran diksi, citraan, dan gaya bahasa. Konsep cinta yang ditemukan pada tataran struktur tersebut  menjadi bagian  penting  dalam memahami puisi secara keseluruhan dan memaknai puisi-puisi tersebut. 

 


Artikel lengkap dapat diunduh melalui tautan berikut

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

https://drive.google.com/file/d/1ieYXS5tQkuLxdqEsB7p-Cxc4hodwoYF4/view?usp=sharing

Budaya dalam Kajian

sumber gambar: https://www.dictio.id/t/

 

Budaya dapat dikaji dengan berbagai disiplin ilmu, seperti strukturalisme, pragmatik, dan semiotik. Jadi dengan kata lain, ada sumbangan yang diberikan oleh ilmu-ilmu tersebut dalam kajian budaya. Srukturalisme adalah paham yang menyatakan bahwa segala hal tidak dapat dipahami secara terpisah dari hal lain, melainkan harus dilihat dalam konteks struktur yang lebih besar. Paham strukturalisme bermula di Perancis pada tahun 1950-an dan pertama kali muncul dalam karya antropolog Clade Levi Strauss dan Roland Bhartes. Jadi, dengan kata lain pengkajian budaya harus dilihat sebagai satu struktur besar yang komprehensif dan tidak secara parsial. Misalnya, ketika kita mengkaji budaya Sunda, maka budaya Sunda tersebut harus dilihat secara menyeluruh dalam konteks yang utuh tidak terpisah. Artinya budaya Sunda secara keseluruhan bukan sebagian atau terpisah-pisah.

        Pragmatik melihat syarat-syarat suatu hal sebagai sebuah keserasian dan hal tersebut mempunyai “keuntungan” tersendiri. Di bidang Linguistik, pragmatik diartikan berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi. Penelitian kajian budaya juga tidak bisa terlepas dari pragmatik karena bagaimanapun peran pragmatik tidak bisa dihindari. Contohnya, ketika kita mengkaji bahasa suatu daerah yang mempunyai tingkatan-tingkatan –seperti di masyarakat Sunda- maka peran pragmatik dapat membantu kajian budaya tersebut.

        Selain strukturalisme dan pragmatik yang mempunyai peran penting dalam kajian budaya, semiotik pun berpengaruh karena semiotika adalah ilmu yang mempelajari tanda-tanda. Dalam mengkaji suatu budaya, sistem tanda tidak dapat dipisahkan. Contoh yang paling sederhana adalah penggunaan media “warna” di setiap daerah dengan kebudayaan berbeda tentu akan juga mempunyai perbedaan dalam penginterpretasiannya. Untuk orang yang meninggal dunia untuk sebagian masyarakat menggunakan bendera kuning, mungkin hal tersebut tidak berlaku untuk daerah yang lain. Begitupun tanda-tanda yang lain yang terangkum dalam sistem semiotika. Dengan demikian, strukturalisme, pragmatik, dan semiotika mempunyai peran yang tidak sepele dalam pengkajian budaya.

        Ketiga disiplin ilmu tersebut dapat membantu dalam mengkaji budaya. Selain itu, kecenderungan ragam budaya di Indonesia yang sangat majemuk dan beragam dapat dilihat sebagai ragam budaya dengan kriteria budaya kontak tinggi dan bersifat kolektivistik.

        Budaya masyarakat dengan budaya kontak tinggi adalah budaya masyarakat yang menggunakan kontak fisik sebagai bentuk penyampaian informasi secara implisit. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat dengan budaya kontak tinggi karena memang selalu “mementingkan” kontak fisik untuk menyampaikan perasaan. Seperti: berjabat tangan, berpelukan, cipika-cipiki (semua menandakan keakraban dan rasa senang ketika bertemu dengan orang yang dianggap sudah dekat).

        Selain budaya kontak tinggi, masyarakat Indonesia juga bersifat kolektivistik. Artinya, jiwa kebersamaan dan gotong royongnya sangat tinggi. Sangat bergantung dengan orang-orang sekitarnya. Misalnya, di masyarakat kita sangat lumrah ketika membantu tetangga yang sedang membangun rumah, mengadakan resepsi, dan sebagainya. Jiwa kebersamaannya sangat tinggi, sehingga tidak salah dalam masyarakat kita ada ungkapan mangan ora mangan asal kumpul, ungkapan ini menandakan sifat masyarakat  kolektif.

 

disarikan oleh

Heri Isnaini



Kamis, 09 Februari 2023

The Concept of "Manunggaling Kawula Gusti" In SDD's Poetry

 

sumber gambar: https://kaliopak.com/

This article discussed the depiction of the concept of "Manunggaling Kawula Gusti" in Sapardi Djoko Damono’s  poetry. The concept of "Manunggaling Kawula Gusti" was  discussed based on metaphors  arised  from  diction and meaning of poetry. The discussion of the metaphor refered to the concept of the sign  arisen  in the structure of  the  poetry  based on  Carles Sanders Pierce’s concept of representament, object, and interpretant. In addition, how the signs relate to other texts and their relationship with the Javanese mysticism as part of the Islam-Javanese ideology were perused. Therefore, this article offers a comprehensive discussion of the "Manunggaling Kawula Gusti" concept that was embodied in the metaphor of divine love that was described through emptiness, emptiness, and oneness. 




Artikel lengkap dapat diunduh pada tautan berikut

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

https://drive.google.com/file/d/1l27Hn0vk6hB02-A9ZXaw8vqGzqw55YsE/view?usp=sharing

Senin, 06 Februari 2023

Tulisan dan Pelanggengan Kekuasaan

sumber gambar: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/

Asal-muasal tulisan yang sampai saat ini masih diyakini adalah “tulisan pertama” yang lahir di Sumeria (Irak) sekitar 5.000 tahun yang lalu, sementara manusia sudah ada sejak 200.000 tahun yang lalu. Artinya, ada gap yang panjang antara keberadaan tulisan dan manusia. Manusia menggunakan tulisan didasari oleh dorongan kekuasaan karena menganggap ada yang harus diabadikan yang dianggap penting. Misalnya, seseorang yang berhasil membunuh beruang dalam perburuan karena dia ingin dianggap berkuasa dan pemberani maka dia menggambarkan peristiwa tersebut melalui goresan di dinding goa. Rajah dalam mantra juga ditulis karena ada keyakinan bahwa di dalamnya ada kekuatan dan kekuasaan dari otoritas kekuatan tertentu.

            Menulis bukanlah kegiatan sederhana yang hanya menggoreskan inskriptor pada media tertentu, melainkan sebuah proses yang berliku dan rumit. Ada mekanisme tersistem yang melatari kegiatan menulis. Ketika kita menulis (dalam bentuk apa pun) maka hasil dari proses tersebut adalah seuatu yang disebut tulisan. Proses ini mencakup proses mengalihkan ide, gagasan,  dan pikiran yang semula “ada” pada benak pikiran dikodifikasikan pada tulisan yang tergores di media lain, seperti, loh, batu, kulit, daun, kertas, dan media-media yang lainnya. Dengan catatan ada otoritas tertentu yang menghendaki tulisan tersebut dibuat dan digoreskan. Misalnya, perintah atau keinginan.

            Dalam bahasa Indonesia terdapat dua konstruksi kata pada pembentukan kata penulisan yang bermakna proses. Pertama, konstruksi kata [(peN-) + tulisan]. Kedua, konstruksi kata dengan konfiks [(peN-an) + tulis]. Perbedaan konstruksi ini akan menghasilkan pembacaan yang berbeda. Makna kata yang berarti proses menulis atau cara menulis yang cenderung mengarah pada proses membuat suatu produk adalah konstruksi kedua, sedangkan pada konstruksi yang pertama adalah suatu kegiatan yang sudah saya jelaskan di atas. Ada anomali tersendiri terutama pada penekanan dan konstruksi pembentukan katanya. Sehingga, akan muncul ketaksaan dalam pembacaan pada kata tersebut. Hemat saya, pembentukan kata “tulisan”, “menulis”, ataupun “penulisan” harus dibaca pada wacana yang tidak sempit. Ketiganya merupakan sebuah proses tertentu yang tidak sederhana dan sangat rumit. Tidak semudah yang dibayangkan karena pengertian ketiga kata tersebut akan meluas. Sepertinya kita harus melihat ketiga kata tersebut secara komprehensif. Tidak sebagian-sebagian.

            Ketika suara kekuasaan seorang raja ingin abadi maka suara tersebut dilanggengkan melalui tulisan, misalnya dalam prasasti. Di dalam prasasti tersebut gagasan dan suara seorang raja akan terpatri lama dan langgeng. Suaranya abadi, walaupun ada kekuatan yang hilang pada proses penggantian tersebut (bentuk suara ke dalam tulisan). Konteks penuturan seorang raja itu akan hilang, yakni peristiwa komunikasi antara penutur, petutur, kesempatan bertutur, tujuan bertutur, dan hubunganya dengan lingkungan serta masyarakat pendukungnya. Konteks yang hilang itu diganti dengan monumen tulisan yang kekal dalam prasasti.

            Dengan demikian, “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”, ungkap Chairil Anwar dan “Kau boleh pintar, tetapi tanpa menulis kau akan dilupakan sejarah”, seru Pramoedya Ananta Toer jelas menunjukkan bahwa menulis adalah salah satu cara dalam melanggengkan kekuasaan. Walaupun kita mengetahui tidak ada acara lain dalam keabadian, melainkan dengan menulis. Jadi, abadikan diri kita dengan menulis, tulisan, dan penulisan.


disarikan oleh

Heri Isnaini 



Minggu, 05 Februari 2023

Ideologi Islam-Jawa pada Kumpulan Puisi Mantra Orang Jawa Karya Sapardi Djoko Damono

sumber gambar: https://bangkitmedia.com/

 

Artikel ini menggambarkan ideologi Islam-Jawa pada kumpulan puisi Mantra Orang Jawa karya Sapardi Djoko Damono. Penggambaran ideologi tersebut dilihat berdasarkan konsep tanda yang muncul di dalamnya. Tanda-tanda tersebut kemudian dianalisis berdasarkan teori semiotika yang dikemukakan oleh Pierce, yakni dengan memperhatikan representament, object, dan interpretant. Di samping itu, artikel ini juga menunjukkan hubungan (relasi) tanda dengan teks lain. Pembahasan-pembahasan tersebut bermuara pada pemaknaan konsep ideologi Islam-Jawa yang direpresentasikan dalam kumpulan puisi Mantra Orang Jawa karya Sapardi Djoko Damono. Akhirnya, artikel ini menawarkan rekonstruksi klasifikasi masyarakat Islam Jawa yang cenderung aristokrat. Pengklasifikasian yang dikemukakan oleh Clifford Geertz, yakni santri, priayi, dan abangan  harus disempurnakan dengan ideologi Islam-Jawa yang menghindar dari syariat sentris sebagai bagian dari Islam normatif. 


Artikel lengkap dapat diunduh pada tautan berikut:

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

https://drive.google.com/file/d/1gFVCgz8Zn_cj622wEkDK0It8gpjF5cy1/view?usp=sharing

Manusia dan Kebudayaan

sumber gambar: http://rahayuputami22.blogspot.com/

(oleh: Yulia Herliani, Guru SMK Profita Bandung)

Setelah runtuhnya evolusi manusia yang dikemukakan oleh Darwin pada beberapa tahun belakangan ini. Orang-orang mulai menyadari bahwa manusia bukan merupakan makhluk biologis hasil evolusi alamiah. Keberadaan manusia tidak terlepas dari kesadarannya untuk mempertahankan hidup dengan budaya. Kebudayaanlah yang dapat membedakan manusia dengan makhluk biologis lainnya. Sehingga dia menjadi makhluk yang dapat bertahan dan mengembangkan diri sampai akhirnya menjadi makhluk yang menguasai dunia. Jadi, dengan kesadaran dan keyakinannya bahwa manusia adalah makhluk budaya yang terus berkembang dari hasil proses panjang sejarah, maka sudah barang tentu apa yang dilakukan adalah warisan dari budaya yang telah ada.

            Manusia menjadi “pengembang” kebudayaan dan menjadi pewaris yang wajib melestarikan dan membuat kebudayaan tersebut lebih maju ke arah yang lebih baik. Dengan demikian, manusia dilahirkan sebagai makhluk budaya adalah hasil perkembangan historis yang penuh dengan perjuangan yang panjang, bukan semata-mata hasil dari evolusi yang alamiah.

            Bahasa merupakan salah satu hasil kebudayaan manusia. Melalui bahasa manusia berkembang dan melestarikan keberadaannya di muka bumi, dengan bahasa pula manusia dapat berinteraksi dengan sesamanya. Begitu banyaknya bahasa yang beragam di dunia ini tetapi semua bahasa adalah produk dari budaya yang dihasilkan manusia. Contohnya, manusia senantiasa dapat berinteraksi dengan sesamanya melalui bahasa, (menyapa, mengobrol, bertanya, mengungkapkan kegembiraan, mengunkapkan kesedihan, dsb). Semuanya dapat diugkapkan melalui bahasa. Selain merupakan produk budaya, bahasa juga dapat menjadi pola-pola budaya itu sendiri. Di masyarakat Jawa dan Sunda, penggunaan bahasa ada beberapa tingkatan, tingkatan-tingkatan dalam berbahasa inilah yang di antaranya membentuk pola-pola budaya.

            Praktik komunikasi antarwarga masyarakat budaya sudah jelas akan menghasilkan pola-pola budaya tertentu. Misalnya, ketika orang berkomunikasi dengan orang yang lebih tua/dihormati maka komunikasi yang dilakukan akan sedikit formal, santun, tidak ceplas-ceplos, dan sebagainya. Berbeda halnya dengan praktik komunikasi yang dilakukan seseorang dengan teman dekatnya, mungkin pola budaya yang akan muncul adalah: situasi keakraban, penuh candaan, dan sebagainya.

            Hal yang berkaitan pula dengan pola-pola budaya adalah tindakan sosial. Ketika seorang dari suatu budaya masyarakat melakukan sebuah tindakan sosial berarti dia telah menunjukkan pola budayanya. Misalnya, ketika ada seseorang yang sedang berjalan lalu berpapasan dengan orang yang lebih tua, maka tindakan “mengangguk” atau “tersenyum” atau “menyapa” adalah sebuah tindakan yang berarti dia telah membuat pola budayanya sendiri. Begitupun dengan contoh yang lain, misalnya berjabat tangan dengan seseorang ketika bertemu adalah tindakan sosial pada masyarakat budaya tetentu yang mencerminkan pola budaya tertentu pula.

            Pembentukan pola pikir juga berkaitan dengan pola-pola budaya. Misalnya, pola pikir masyarakat Sunda yang cenderung mengalah, kurang semangat, tidak merantau, dan sedikit pundungan (sensitif) adalah kecenderungan pola pikir yang ditanamkan pada masyarakat sejak lama sehingga pola pikir tersebut menjadi pola budaya, sehingga kita tidak akan heran ketika ada yang mengatakan orang Sunda, pasti yang muncul adalah pola pikir: mengalah, tidak mungkin merantau, kurang semangat, dan pundungan. Begitupun dengan pola pikir-pola pikir pada masyarakat budaya yang lain, misalnya pada masyarakat Padang, Batak, Jawa,dan sebagainya pola pikir pada masyarakat tersebut juga akan berkaitan dan bahkan membentuk pola budayanya.



Komunikasi Tokoh Pingkan dalam Merepresentasikan Konsep “Modern Meisje” Pada Novel Hujan Bulan Juni

sumber gambar: https://portaljepara.pikiran-rakyat.com/

 

Representasi tokoh perempuan dalam novel  Hujan Bulan Juni  karya Sapardi Djoko Damono didasari atas konsep “modern meisje” yang digagas Kartini. Konsep ini adalah implikasi atas presentasi perempuan mandiri yang dalam berbagai hal mampu menjadi tokoh berpengaruh dalam masyarakat. Konsep “modern meisje” direpresentasikan melalui tokoh Pingkan, tokoh perempuan dalam novel  Hujan Bulan Juni.  Pingkan digambarkan sebagai perempuan campuran Manado-Jawa yang memiliki karakter sebagai representasi “modern meisje”. Karakter ini dapat dilihat dalam berbagai tanda yang terlihat dalam penggambaran tokoh, baik dari penggambaran fisik, watak, sikap, dan dialog. Artikel ini bertujuan menunjukkan representasi tokoh Pingkan sebagai “modern meisje” sesuai dengan konsep feminis Kartini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitataif dengan menempatkan novel sebagai data penelitian. Selain itu, kajian feminis menjadi teori yang dijadikan dasar dan acuan dalam pembahasan. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa tokoh Pingkan merupakan sosok yang merepresentasi konsep “modern meisje” dalam pandangan Kartini. Representasi ini dapat dirujuk dalam konsep perempuan merdeka, mandiri, visioner, antusias, serta berkepribadian halus. Representasi inilah yang disampaikan Kartini sebagai bagian dari wujud idealisme sosok perempuan modern dalam pandangan feminismenya.  


Artikel lengkapnya dapat diunduh pada tautan berikut

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

https://drive.google.com/file/d/12Gp0vzjN409-su8gZ-vQFHjnb95dUqSo/view?usp=sharing

Cerpen: Makam Keramat Mbah Uyut

Baca cerpen lengkapnya di tautan berikut https://tebuireng.online/makam-keramat-mbah-uyut/