Postingan Populer

Minggu, 05 Februari 2023

Upacara Sati dan Opresi terhadap Perempuan pada Puisi "Sita" Karya Sapardi Djoko Damono

sumber gambar: https://www.kompas.com/



Sati adalah konsep bakar diri perempuan India untuk menunjukkan kesetiaan kepada suami. Dalam cerita Ramayana,  sati dilakukan oleh Sita sebagai pembuktian kesetiaan kepada Rama. Konsep sati jelas bersifat opresi kepada perempuan baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat. Bentuk opresi tersebut digambarkan dengan lakuan Sita yang sesungguhnya merupakan konstruksi keinginan Rama belaka. Dalam sajak “Sita” karya Sapardi Djoko Damono, drama  sati  yang dilakukan Sita diawali oleh rasa cemburu Rama. Hal ini jelas bentuk opresi kepada perempuan yang dikonstruksi menjadi liyan dan bukan menjadi dirinya sendiri. Hak seksualitas Sita hilang karena harus mengikuti seksualitas yang diinginkan Rama. Artinya, sistem patriarki yang melingkupi drama tersebut membuat perempuan menjadi objek yang abjek. Sajak “Sita” yang ditulis Sapardi Djoko Damono memiliki hubungan intertekstualitas dengan teks Ramayana. Dengan demikian, tulisan ini akan membahas hasil pembacaan dari sajak “Sita” karya Sapardi Djoko Damono dilihat dari bentuk-bentuk opresi terhadap perempuan dengan memperhatikan tanda-tanda dan intertekstualitasnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa intertesktualitas sajak “Sati” dan epos Ramayana dapat disandingkan dan dibandingkan. Kedua teks memperlihatkan bentuk opresi perempuan  dalam bentuk ketidakadilan gender karena dikonstruksi oleh sistem patriarki dalam masyakarat pendukungnya. 




Artikel lengkap dapat diunduh pada tautan berikut

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

https://drive.google.com/file/d/1MWVPowPdMBL4QF-PWVh3XWhhvclXMhEx/view?usp=sharing
 

Sabtu, 04 Februari 2023

Balai Pustaka dan Lembaga Sensor Pemerintah Kolonial

sumber gambar: https://dispusip.jakarta.go.id/


        Commissie voor de Inlansche School en Volkslectuur atau Komisi untuk Bacaan Rakyat didirikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tanggal 15 Austus 1908. Komisi tersebut lebih dikenal dengan nama Balai Pustaka. Citra Balai Pustaka sebagai badan yang menerbitkan buku-buku bacaan rakyat mengalami kemajuan yang sangat pesat, yakni hampir 300 judul buku per tahun diterbitkan oleh badan ini. Sebagai badan penerbitan di bawah naungan Pemerintah Kolonial, Balai Pustaka menjadi salah satu bagian dari pemerintah yang bertugas menyeleksi dan menyensor bahan bacaan untuk rakyat. 
                Pada dekade 1920-an semua bacaan yang beredar di masyarakat harus dibawah naungan Balai Pustaka sebagai satu-satunya penerbit yang mempunyai hak menerbitkan dan mengedarkan bahan bacaan masyarakat. Balai Pustaka mempunyai otoritas dan prioritas dalam penerbitan bahan bacaan. Semua bacaan yang terbit di luar Balai Pustaka adalah bacaan liar dan dicap sebagai roman picisan. Oleh karena bacaan-bacaan tersebut tidak mementingkan asas mendidik dalam bersastra. “Mendidik” dalam pengertian pemerintah waktu itu tentu saja berkaitan dengan rencana pengembangan dan pemantapan kekuasaan. 
                Paradigma ini berlangsung lama sehingga karya-karya seperti karya pengarang keturunan Tionghoa tidak dapat dengan “nyaman” beredar dan dinikmati dengan bebas. Ada syarat-syarat khusus yang ditetapkan Balai Pustaka dalam hal menerbitkan bahan-bahan bacaan. Syarat-syarat khusus tersebut memiliki tujuan untuk memperkuat pengaruh Pemerintah Kolonial terhadap masyarakat. Bahan bacaan akan dianggap lukus sensor ketika memenuhi syarat: (1) tidak menyinggung agama atau adat; (2) tidak membicarakan politik yang bertentangan dengan politik pemerintah; dan (3) tidak melanggar norma susila. Syarat-syarat tersebut jelas menekankan pada pentingnya memperkuat pengaruh dan otoritas Pemerintah Kolonial. 
                Dikotomi oleh Pemerintah Kolonial terkait bacaan liar atau roman picisan dengan karya-karya yang diterbitkan oleh Balai Pustaka adalah sebagian dari imbas industrialisasi penerbitan dan politik etis dari pemerintah kolonial untuk “kemelekhurufan”. Dampak dari kebijakan inilah yang membuat penerbitan swasta manjamur dan tentu saja berakibat sensor pemerintah terhadap bacaan liar semakin ketat. Balai Pustaka sebagai bagian dari Pemerintah Kolonial ikut andil dalam menyaring informasi-informasi yang akan sampai kepada masyarakat melalui bacaan.


disarikan oleh

Heri Isnaini

Jumat, 03 Februari 2023

Asihan Jaran Goyang: Makna, Fungsi, dan Konteks Penuturan

 

sumber gambar: https://bali.tribunnews.com/2019/04/05/

Mantra diejawantah sebagai bagian dari nilai-nilai budaya suatu komunitas masyarakat. Di dalam teks mantra terdapat berbagai konsep  nilai spiritualitas dan religiositas. Mantra juga menjadi bagian dari sarana untuk meminta pertolongan dan keinginan agar dapat dikabulkan oleh Tuhan. Salah satu mantra yang dibahas pada penelitian ini adalah mantra Asihan Jaran Goyang. Mantra ini bertujuan untuk mengusai sukma dan jiwa orang lain agar mencintai dan menyukai orang yang mengamalkan mantra. Pada penelitian ini, Asihan Jaran Goyang diposisikan menjadi teks yang dibahas berdasarkan makna, fungsi dan konteks penuturannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif dengan menempatkan analisis teks sebagai objek penelitian. Selain itu, dianalisis  juga konteks penuturan mantra yang terkait dengan laku yang menjadi syarat diperolehnya kekuatan dari mantra tersebut. Hasil penelitian menunjukkan struktur mantra Asihan Jaran Goyang dari penggunaan bahasa, majas, dan tema dengan analisis isotopi memiliki  keterkaitan dengan wujud kepercayaan kepada Tuhan. Sementara itu,  fungsi,  konteks penuturan dan proses penciptaan mendeskripsikan proses pelafalan mantra dan laku yang harus dipenuhi oleh pelafal mantra, sedangkan fungsi menunjukkan kegunaan mantra secara fungsional oleh pelafal mantra.  


Artikel lengkapnya bisa diunduh pada tautan berikut

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

https://drive.google.com/file/d/1_tJqLMu2ZNnuTprVRzwoEe9PT0iFo86f/view?usp=sharing

Modern Meisje: Pemikiran Feminisme Kartini

sumber gambar: https://www.wikiwand.com/id/Kartini_School

 

Japara, 25 May, 1899.

I have longed to make the acquaintance of a "modern meisje” that proud, independent girl who has all my sympathy! She who, happy and self-reliant, lightly and alertly steps on her way through life, full of enthusiasm and warm feeling; working not only for her own well-being and happiness, but for the greater good of humanity as a whole.

        Kutipan surat Kartini kepada Estelle "Stella" Zeehandelaar, sahabat karibnya dari Belanda, ditulis jauh sebelum “pergerakan perempuan” pada tahun 1960-an di Amerika yang pada akhirnya memunculkan kritik sastra feminis. Dalam surat itu, terlihat jelas betapa Kartini merindukan sosok “perempuan modern” yang sangat didambakannya. Perempuan merdeka, mandiri, visioner, antusias, serta perempuan yang  berkepribadian halus tergambar begitu jelas, sebagai sosok modern meisje yang dikhayalkan Kartini. Sosok itulah yang meneguhkan Kartini memperjuangkan kaumnya yang tertindas yang selalu menjadi objek yang abjek.

            Pemikiran-pemikiran Kartini untuk memperjuangkan hak-hak perempuan, seperti hak untuk berpendidikan; hak untuk meperoleh kebebasan; hak untuk memilih jodoh; dan lebih jauh lagi adalah  hak “berkedudukan sama” dalam struktur sosial masyarakat adalah pemikiran feminis yang lahir akibat tekanan yang dialami Kartini. Secara sadar Kartini melihat hal tersebut menjadi sebuah “penindasan” dan “penyiksaan” terhadap hak-hak perempuan.

            Melalui surat-surat yang dikirimkan pada Stella, sesungguhnya Kartini sedang berusaha mencoba mengadakan perlawanan terhadap kondisi yang menyudutkan kaum perempuan pada strata sosial masyarakat Jawa. Perlawanan yang dilakukan Kartini adalah dengan tulisan. Tulisan yang khas “perlawanan perempuan”. Kartini “sengaja” menggunakan bahasa sebagai bentuk “perlawanan” atas pengekangan dirinya. Melalui bahasa, Kartini ingin memperlihatkan bahwa perempuan dapat melawan dengan otoritas laki-laki patriartki yang kolonial.

            Pandangan-pandangan kritis dalam surat-surat Kartini mengungkapkan ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan). Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada Stella, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.

            Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Pandangan-pandangan kritis Kartini tersebut adalah bagian dari kesadaran dirinya akan kaum perempuan yang tertindas dalam balutan agama dan tradisi. Dengan konsep modern meisje yang dicita-citakan, Kartini tengah menyulam asa untuk kemajuan perempuan Jawa dan Indonesia.


disarikan oleh

Heri Isnaini

Mite Sanghyang Kenit: Daya Tarik Wisata Alam di Desa Rajamandala Kulon Kabupaten Bandung Barat

 

sumber gambar: https://bandungraya.inews.id/

Cerita-cerita yang dipercaya masyarakat tradisional yang berkembang dan tersebar dari generasi ke generasi telah melahirkan konsep ingatan dan kepercayaan kolektif. Ingatan dan kepercayaan tersebut mewujud menjadi mitos. Di dalam banyak tradisi masyarakat di Indonesia, mitos terlahir dari mite, sebuah cerita  yang melibatkan kekuatan adikodrati, yakni kekuatan para Dewa. Dalam budaya Sunda, mite seringkali mengisahkan para Dewa yang turun ke bumi dengan misi tertentu.  Penelitian  ini membahas mite  Sanghyang Kenit  yang dulu dianggap cerita suci. Mite  Sanghyang Kenit  dibahas dalam perspektif ganda, yakni sebagai cerita masa lalu dan sebagai artefak budaya yang mewujud menjadi destinasi wisata. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan objek cerita sebagai data. Selain itu, matriks SWOT (kekuatan/strenghts); (kelemahan/weaknesses); (peluang/opportunities);  dan  ancaman/threats)  digunakan untuk menganalisis  Sanghyang Kenit  sebagai destinasi wisata dilihat dari keunikan, keaslian, dan kelangkaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mite  Sanghyang Kenit dapat menjadi daya  tarik wisata alam di desa Rajamandala Kulon, kabupaten Bandung Barat, yakni dengan dibuktikannya adanya kesinambungan antara mite dengan potensi daya tarik wisata. 


Artikel lengkap dapat diunduh pada tautan berikut

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

https://drive.google.com/file/d/1sEi4fYm8SRccndWpGzw6BccSq_xmljEw/view?usp=sharing

Kamis, 02 Februari 2023

Mantra

sumber gambar: https://tubanbicara.pikiran-rakyat.com

 

Mantra adalah bentuk sastra lisan yang berbentuk tradisi budaya yang dipercayai oleh masyarakat, khususnya di pulau Jawa dan umumnya masyarakat Nusantara. Secara etimologis, kata mantra berasal dari bahasa Sanskerta, yakni manas yang berarti pikiran dan tra yang berarti melindungi. Konsep melindungi pikiran inilah yang kemudian dipahami menjadi kata-kata yang dilafalkan dan dipercayai memiliki kekuatan tertentu sehingga untuk menguasainya seseorang harus melakukan ritual tertentu yang dapat membangkitkan kekuatan mantra itu sendiri.

           Masyarakat tradisional memperoleh mantra dengan proses pewarisan turun-temurun secara lisan dan tradisional dari generasi ke generasi. Proses inilah yang membuat mantra diyakini memiliki kekuatan yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Secara historis, mantra sebetulnya berkaitan erat dengan kehidupan spiritual manusia, yakni merupakan hasil dari “proses kreatif“ para leluhur (orang-orang dulu) dalam memahami alam dan dirinya secara lebih nyata. Mantra menjadi media untuk menyeimbangkan antara jagad gedhe dan jagad cilik, antara mikrokosmos dan makrokosmos. Harmonisasi tersebut menjadi salah satu upaya manusia untuk keselarasan alam demi kebahagiaan manusia, alam, dan semua makhluk yang ada di dunia ini.

            Pemahaman mantra berawal dari teori evolusi religi yang di kemukakan oleh E.B. Taylor yang mengklasifikasi evolusi religi manusia terdiri atas 3 tingkatan. Pertama, manusia memiliki keasadaran adanya jiwa di dalam diri dan sekelilingnya. Kedua, manusia percaya bahwa alam mempunyai jiwa (soul) yang dikenal dengan dewa-dewa. Ketiga, manusia percaya bahwa jiwa (soul) atau dewa-dewa adalah titisan dari satu dewa yang Agung. Berdasarkan teori Taylor tersebut peranan mantra menjadi sangat penting, yakni menjadi jembatan penghubung antara manusia dengan spirit dan soul tersebut.

            Oleh karena mantra dijadikan penghubung antara manusia dengan spirit dan soul maka para leluhur membuat berbagai macam jenis mantra yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia itu sendiri. Dalam tradisi Sunda, Jawa Barat, mantra menurut Yus Rusyana (1970) diklasifikasi berdasarkan fungsi dan manfaatnya. Mantra-mantra tersebut dibagi menjadi asihan (digunakan untuk cinta); Jangjawokan (dibaca sebelum atau sesudah melakukan pekerjaan); ajian (untuk kekuatan); singlar (pengusir roh halus); rajah (penolak bala); dan jampe (digunakan untuk menyembuhkan penyakit). Di kalangan masyarakat Jawa, wujud mantra itu pada umumnya dikenali antara lain: japa-mantra, aji-aji, rapal (mantra dalam wujud kata-kata); rajah (mantra dalam wujud tulisan) ; dan jimat (mantra yang kekuatannya ditanam pada suatu benda). Begitulah secara singkat sejarah tentang mantra sebagai bagian dari warisan leluhur yang patut dilestarikan dan diabadikan untuk generasi yang akan datang.


disarikan oleh

Heri Isnaini


Suwung dan Metafora Ketuhanan pada Puisi "Dalam Diriku" Karya Sapardi Djoko Damono

 

Dewa Ruci (Acrylic Painting on Canvas by Eni Setyaningsih)


Penelitian ini memaparkan konsep  suwung  pada puisi “Dalam Diriku” karya Sapardi Djoko Damono. Pemaparan konsep  suwung  tersebut ditentukan oleh penggunaan metafora ketuhanan di dalam puisi. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh 3 masalah, yakni: 1) bagaimana struktur puisi?; 2)  bagaimana penggambaran gaya bahasa metafora yang ditampilkan dalam teks puisi?; dan 3) bagaimana konsep  suwung  digambarkan melalui metafora  ketuhanan  pada puisi?  Ketiga permasalahan tersebut dibahas dengan menggunakan teori metafora melalui konsep  figure  yang dikemukakan Abrams. Penggunaan teori ini untuk mendedahkan konsep  suwung  sebagai ejawantah dari tema ketuhanan dalam puisi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yakni menempatkan teks sebagai data dan objek penelitian.  Analisis yang digunakan adalah analisis isi dengan fokus pada penganalisisan teks dari segi gaya bahasa dan pemaknaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep  suwung  dapat ditemukan pada tataran diksi dan simbol dalam tataran metafora ketuhanan. Konsep suwung semakin menegaskan metafora ketuhanan yang ditampilkan Sapardi Djoko Damono pada puisi “Dalam Diriku”.



Teks lengkap sila unduh pada tautan berikut

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

https://drive.google.com/file/d/1LRLOKc1eLILkLtk89Q0fYqvtlk2F7qeF/view?usp=sharing

Rabu, 01 Februari 2023

Air dan Ajaran Mistik Jawa

sumber gambar: https://sanadmedia.com/

 

Kehidupan adalah metafora dari perjalanan Sang hidup mulai dari kelahiran, proses kehidupan, kematian, dan pascakematian dalam ajaran mistik Jawa dikenal dengan konsep sangkan paraning dumadi. Proses perjalanan tersebut digambarkan seperti setetes air yang turun ke bumi berkumpul menjadi mata air, mengalir, menjadi sungai, dan seterusnya masuk ke samudera. Perjalanan air ini tidaklah mudah karena harus melalui tahapan-tahapan yang rumit dan berliku.

        Dalam kebudayan Jawa, air menjadi bagian yang penting karena berkaitan dengan konsep perjalanan mistik spiritual. Air menjadi metafora dalam penggambaran nilai-nilai kehidupan dan perjalanan kehidupan manusia. Seringkali dikisahkan bahwa untuk menemukan jati diri, manusia harus menemukan hati nuraninya sendiri yang diwujudkan dengan air suci yang disebut tirta suci perwitasari (amerta kamandanu). Perjalanan dan pencarian ini sangat panjang, berbahaya, penuh liku, dan aral serta rintangan sehingga menemukannya adalah sesuatu yang sangat berharga dan penting.

        Perjalanan air yang digambarkan sebagai atman ini akan mengakibatkan beberapa sifat air yang mewujud dalam beberapa kategori seperti: air kotor, air bersih, tirta, tirta suci, dan tirta suci perwitasari. Seperti juga perjalanan air itu sendiri maka hal yang harus dicapai oleh manusia adalah air suci (tirta suci perwitasari) bukan sekadar air bersih atau bahkan menjadi air kotor. Dengan demikian, pencarian tirta suci perwitasari adalah pencarian hakiki tentang kesadaran akan kehidupan dan ketuhanan.

        Proses perjalanan air ini adalah proses perjalanan manusia dari yang berjiwa kotor menjadi manusia sejati (sarira bathara), seperti ungkapan berikut: hanggayuh jati dhiri riang Guru Satuhu, nayuh tirta wening, cahya sukma terwaca (untuk mencapai jatidiri Sang Guru sejati, usaha supaya diberi alamat tirta suci, cahaya sukma terang yang jelas). Setelah menemukan tirta suci perwitasari, maka jiwa manusia akan seperti samudera, luas dan dalam. Artinya sudah menemukan jati diri dan hadirnya kesadaran akan ilmu-ilmu ketuhanan.

        Kisah Dewa Ruci menjadi kisah yang paling banyak dikenal sekaitan dengan konsep pencarian air tirta suci perwitasari. Kisah itu menggambarkan  Bima atau Arya Wrekudara yang sedang mencari air suci atas petunjuk gurunya, Resi Drona. Perjalanan yang sangat jauh ditempuh Bima sampai menuju samudera. Di tengah samudera, Bima bertemu dengan Dewa Bajang atau Dewa Ruci yang memiliki tubuh sangat kecil. “Nah, segeralah Wrekudara, masuklah ke dalam tubuhku. Di sinilah jalanmu, telingaku yang kiri”. Arya Wrekudara masuk dengan cepat. Setelah masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci dan menemukan kesadaran jati diri dan ilmu-ilmu ketuhanan, Bima menjadi “manusia sejati”, menjadi manusia yang merepresentasikan nilai-nilai ketuhanan.

        Kisah tersebut mengajarkan tentang pencarian jati diri yang diwujudkan dengan air suci. Dari kisah itu, dapat dibangun konsep tentang air dan perjalanan mistik manusia sangat terkait dengan kesadaran akan ilmu-ilmu ketuhanan yang dimetaforakan dengan perjalanan air. Tujuan dari penggambaran ini adalah membentuk manusia menjadi manusia yang bersifat samudera, luas dan dalam.


Disarikan oleh

Heri Isnaini

Hawa, Taman, dan Cinta: Metafora Religiositas pada Puisi-Puisi Sapardi Djoko Damono

sumber gambar: https://rec.or.id/taman-eden/

Religiositas menjadi tema yang sangat penting dalam puisi. Tema ini berkelindan mewujud bahasa figuratif dalam berbagai tataran, baik itu kata, frasa, kalimat, larik, bait, dan tipografi.  Bahasa figuratif berjenis metafora menjadi bahasa yang paling banyak digunakan dalam puisi.  Artikel ini  bertujuan  memaparkan penggunaan metafora religiositas pada puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Penggambaran metafora religiositas pada artikel ini diwujudkan dalam diksi “hawa”, “taman”, dan “cinta”. Ketiganya merepresentasikan nilai-nilai religiositas pada tataran kepercayaan kepada Tuhan.  Pembacaan metafora religiositas tersebut memanfaatkan penggunaan teori stilistika dan hermeneutika. Selain itu, pendekatan deskriptif analitik kualitatif diharapkan dapat mengejawantah dan mengelaborasi pemaknaan puisi secara lebih komprehensif. Dengan demikian, pembahasan  ini diharapkan dapat  memberikan pemaknaan  atas nilai-nilai religiositas yang terdapat dalam puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono. 



Bila berkenan sila unduh tulisan lengkapnya di tautan berikut

>>>>>>>>>>>>>

https://drive.google.com/file/d/1hPVe9Gm_zNeyZrMoUjbsRzY-IQdYCFjC/view?usp=sharing







 

Cerpen: Makam Keramat Mbah Uyut

Baca cerpen lengkapnya di tautan berikut https://tebuireng.online/makam-keramat-mbah-uyut/