Postingan Populer

Senin, 27 Februari 2023

Ah, Mungkin Kau Lupa Aku Begitu Merindumu


 


Rindu adalah perasaan yang senantiasa bersemayam pada lubuk manusia, di mana pun, siapa pun, dan kapan pun. Dia akan terus berada di sana hingga manusia menjadi bagian yang tidak terpisahkan darinya. Dengan rindu, hidup tidak akan abu-abu. Hidup akan beraneka warna. Beragam suka.  Rindu yang disampaikan dalam buku ini merupakan rindu dikristalisasi oleh konvensi bahasa puisi. Ada larik, bait, irama, dan birama. Dengan demikian, makna rindu bisa semakin “liar” sepanjang bahasa yang disampaikan menjadi bahan renungan dalam menghadapi kehidupan. Beragam cara disampaikan untuk rasa rindu, entah itu dengan menunjuk kepada seseorang, kepada alam, kepada tuhan, atau kepada apa pun yang diyakininya. 

(Heri Isnaini)



Silakan sajak-sajaknya dapat diunduh pada tautan berikut

>>>>>>>>>> https://drive.google.com/file/d/1FY8f7EFrHW4IYO6UkL4Xbmx5wfXPG8jY/view?usp=sharing


Rabu, 22 Februari 2023

Polemik Budaya pada Layar Terkembang

sumber gambar: https://ebooks.gramedia.com/

        Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana (STA) adalah novel yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1936 oleh penerbit kolonial Balai Pustaka. Seperti kita ketahui, pada dekade 1920-an, semua bacaan yang beredar di masyarakat harus dibawah naungan Balai Pustaka sebagai satu-satunya penerbit yang mempunyai hak menerbitkan dan mengedarkan bahan bacaan masyarakat. Dengan asumsi bahwa bacaan yang beredar harus “beradab” dan bukan bacaan cabul.

Secara tekstual dan naratif, Layar Terkembang sebetulnya adalah novel yang sangat mudah dipahami dan cenderung “populer”. Akan tetapi, karena yang menerbitkan novel ini adalah Balai Pustaka sehingga Layar Terkembang menjadi novel beradab dibandingkan karya-karya yang diterbitkan di luar Balai Pustaka, Novel Melayu Tionghoa, misalnya. Artinya, pengaruh penerbit pada masa tersebut sangat mempengaruhi novel dan cerita yang diproduksi dan konsumen yang membacanya.

Sekitar satu tahun sebelum Layar Terkembang terbit, STA mencetuskan ide yang berani soal arah kemajuan budaya bagi Indonesia. STA pada tahun 1935 dengan tegas menyebutkan, Barat, ke Baratlah, Indonesia harus melihat dan belajar jika ingin maju. STA melontarkan idenya itu pada usia 27 tahun. STA menganggap nilai-nilai Barat seperti individualis, materialisme, dan egoisme sebagai sesuatu yang penting sebagai api. Pokok-pokok pemikiran STA bukan hanya mengguncang masyarakat saat itu. Para pemikir dan budayawan seangkatannya seperti Ki Hajar Dewantara dan Sanusi Pane menanggapi pemikiran STA seraya mengingatkan STA bahwa Timur adalah arah kemajuan budaya yang harus dipertahankan Indonesia mendatang. Perdebatan antara STA dengan para penentangnya dikenal dengan istilah Polemik Kebudayaan.

Pengaruh pernyataan STA terlihat pada novel Layar Terkembang. Misalnya, Yusuf, digambarkan sebagai anak pribumi yang pandai, cerdas, calon dokter tetapi selalu berpakaian ala pelajar Belanda, memakai stelan putih dan mengenakan topi helm dengan warna senada. Selanjutnya, kita cermati tokoh Soepomo, teman sekerja Tuti, dia hampir saja meluluhkan hati Tuti yang sudah sangat kuat “mempertahankan” prinsipnya: lebih baik tidak menikah daripada mendapatkan suami yang tidak sepadan dan sepaham hanya karena Soepomo berijazah Belanda, dia pernah sekolah di Belanda.

Dalam novel tersebut, ecara sadar STA sebetulnya mempunyai polemik tersendiri pada hati kecilnya. Dengan terang-terangan dia tidak mungkin akan kembali pada kebudayaan masa lalu yang dikatakannya sebagai takhayul. Ketakhayulan yang dianggap STA sebagai kemunduran pola pikir bangsa ini tercermin pada kutipan teks berikut “Sejak dari dahulu, bangsa kita gemar akan sikap menganggap dunia ini sebagai tiada berarti, fana. Dunia hanya tempat perhentian sebentar. Apa guna mengumpulkan harta? Apa guna kebesaran dan kemuliaan? Sikap demikian menyebabkan bangsa kita tiada berdaya?

Dari beberapa pendapat STA mengenai kebudayaan yang maju harus datang dari Barat, sebetulnya tidak mutlak dipegangnya juga. Kita akan banyak melihat kutipan pada Layar Terkembang yang menyatakan hal tersebut. Novel Layar Terkembang adalah polemik STA sendiri, satu sisi dia merasa dipengaruhi Barat, tetapi di sisi lain dia juga menyadari bahwa pada kebudayaan Barat ada cela yang tidak seharusnya ditirunya. Jadi, siapa yang meniru? STA tidak “meniru” apapun dari Barat, dia hanya memenuhi konvensi yang hanya diposisikan sekadar sumber inspirasi saja. Tidak lebih.

 

disarikan oleh

Heri Isnaini


Minggu, 19 Februari 2023

Seri Kuliah: Ragam Bahasa

sumber gambar: https://www.kompasiana.com/

 

Silakan unduh materi PPT pada tautan berikut

>>>>>>>>>>>>>>>>>

https://docs.google.com/presentation/d/1Ecomimu52PrkFPdcVXKebR9ulhE1lP1o/edit?usp=sharing&ouid=101156531804308666788&rtpof=true&sd=true

Ihwal Bahasa Indonesia

sumber gambar: https://bdkjakarta.kemenag.go.id/

 

Momen penting proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dibacakan Soekarno tahun 1945 secara de facto dan de jure adalah peristiwa yang membebaskan rakyat Indonesia dari penjajahan kaum imperialis. Momen ini tidak luput menjadi peristiwa yang bersejarah sebagai momen kelahiran bangsa Indonesia. Proklamasi yang dibacakan Soekarno pada 17 Agustus 1945 menggema seantero nusantara. Menarik untuk disimak adalah teks proklamasi yang dibacakan Soekarno adalah teks proklamasi dengan menggunakan bahasa Indonesia.

        Bahasa Indonesia yang disepakati sebagai bahasa persatuan pada peristiwa 28 Oktober 1928 menjadi bahasa yang mempersatukan bangsa yang memiliki bahasa yang majemuk. Dengan diikrarkan Sumpah Pemuda, resmilah bahasa Melayu yang sudah dipakai sejak pertengahan Abad VII itu menjadi bahasa Indonesia. Akar utama bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa prasasti yang menjelaskan bahwa bahasa ini sudah digunakan di kepulauan nusantara, seperti: Prasasti Kedukan Bukit di Palembang pada tahun 683; Prasasti Talang Tuo di Palembang pada tahun 684; Prasasti Kota Kapur di Bangka Barat pada tahun 686; Prasasti Karang Brahi, Bangko, Kabupaten Merangin, Jambi pada tahun 688; Prasasti Gandasuli pada tahun 832; Prasasti Bogor pada tahun 942; dan sebagainya. Prasasti-prasasti tersebut menggunakan bahasa Melayu kuno.

        Bahasa Indonesia sendiri berasal dari bahasa Austronesia. Secara harfiah Austronesia berarti “kepulauan selatan” (Latin: australis `selatan` dan nesos/nesia `pulau`). Rumpun bahasa Austronesia terbagi atas beberapa kelompok. Dua kelompok utama ialah bahasa Taiwanik dan bahasa Melayu-Polinesia. Melayu-Polinesia dibagi menjadi bahasa-bahasa Melayu-Polinesia Barat, Tengah, dan Timur. Bahasa-bahasa Austronesia yang mempunyai jumlah penutur terbesar adalah rumpun bahasa Melayu-Polinesia Barat yang menurunkan bahasa Sundik, yaitu: bahasa Jawa, bahasa Melayu (Indonesia), bahasa Sunda, bahasa Madura, bahasa Aceh, bahasa Batak, dan bahasa Bali.

        Kata Indonesia pertama kali dilontarkan oleh George Samuel Earl, kebangsaan Inggris, dengan menyebut “Indunesia” untuk menamai gugusan pulau di Lautan Hindia. Namun, para ilmuwan Eropa lebih sering menyebut dengan “Melayunesia”. J.R. Logan, kebangsaan Inggris, dalam majalah Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (Volume IV, P.254, 1850) menyebut gugusan pulau di Lautan Hindia dengan Indonesian. Kemudian, Adolf Bastian, kebangsaan Jerman, menggunakan Indonesia dalam bukunya Indonesian Order die Inseln des Malaysichen Archipel, untuk menamai pulau yang bertebaran di Lautan Hindia.

        Dengan demikian, perjalanan sejarah bahasa Indonesia adalah perjalanan panjang yang berbanding lurus dengan perjalanan Indonesia menuju bangsa dan negara yang merdeka. Ada pepatah yang mengatakan: “Bahasa daerah itu pasti, bahasa Indonesia itu wajib, dan bahasa asing itu perlu”. Melalui momen proklamasi ini, mari kita jaga bangsa, negara, dan bahasa kita dari “penjajahan” yang tidak terasa, yakni budaya dan ideologi asing.


disarikan oleh

Heri Isnaini


Sabtu, 18 Februari 2023

Kwee Tek Hoay dan "Boenga Roos dari Tjikembang"

 

sumber gambar: https://www.kompas.com/


Kwee Tek Hoay (31 Juli 1886-4 Juli 1952) merupakan penulis keturunan Tionghoa yang produktif. Karya-karya yang ditorehkannya dikenal luas sampai ke dunia internasional. Selain sebagai penulis, Kwee Tek Hoay juga menjadi redaktur berbagai media massa, seperti Panorama, Moestika Romans, dan Moestika Dharma. Kelihaiannya dalam menulis membuat Kwee menjadi satu dari sedikit keturunan Tionghoa yang dapat mengeksplorasi ide-idenya melalui tulisan. Jumlah karyanya mencapai lebih dari 200 buah, termasuk naskah drama dan terjemahan dari bahasa Inggris dan Belanda.

            Salah satu keistimewaan dan ciri khas Kwee adalah kemampuannya menggambarkan keadaan yang dituliskan apa adanya, tidak ditutup-tutupi, dan tidak dilebih-lebihkan. Konsep realis ini yang menyebabkan karya-karya Kwee lebih bersifat informatif faktual dari sekadar karya fiktif sehingga memungkinkan karya-karyanya lebih populer dibandingkan dengan karya-karya yang sezaman.

            Salah satu novel populer yang ditulisnya adalah Boenga Roos dari Tjikembang yang pertama kali diterbitkan oleh Drukkerij Hoa Siang In Kok, Batavia, 1927.  Novel ini begitu populernya sehingga termasuk karya sastra Melayu Tionghoa yang paling banyak dicetak. Di samping sebagai novel, cerita ini juga dipentaskan, bahkan dua kali difilmkan, yaitu pada tahun 1931 dan 1976. Pada tahun 2000, mahasiswa UI mementaskan novel ini di Pusat Kebudayaan Belanda dan pada 11 Februari 2001, novel ini juga dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta atas prakarsa Yayasan Tridarma.

            Boenga Roos dari Tjikembang gubahan Kwee Tek Hoay merupakan novel realis yang bercerita tentang keluarga Tionghoa kaya-raya yang tidak terlepas dari masalah uang, cinta, wanita, dan kedudukan. Inilah ciri realis yang sangat kentara pada novel ini, yakni menggambarkan kisah dengan apa adanya dan sangat faktual. Gaya realis yang digunakan sangat  jelas dan singkat. Tidak ada perkataan yang mengharukan seperti umumnya terdapat pada novel-novel romantik yang seringkali dihadapkan pada kejadian yang tiba-tiba dan berlebih-lebihan.

            Gaya realis yang dibangun oleh Kwee Tek Hoay dalam novel ini terdapat pada tataran latar yang tergambar pada novel tersebut. Kwee Tek Hoay menggambarkan latar tempat dengan begitu apik dan deskripsi yang disajikannya begitu nyata, tampak pada kutipan /Dalam bulan Januari antero tanah-tanah pegunungan di Preanger jadi basah tersirem oleh ujan yang turun satiap hari/. Kutipan tersebut menandakan bahwa Kwee betul-betul mengetahui persoalan dan dia sangat fasih bagaimana cara menggambarkannya. Kwee Tek Hoay ingin memberikan “informasi” mengenai latar tempat, waktu, dan suasana seperti yang tergambar pada petikan di atas. Semua yang tergambar memang sesuatu yang betul-betul realistis sesuai kenyataan tidak dilebih-lebihkan dan tidak pula dikurangi pas menurut porsi yang sesuai dengan zamannya.

            Selain dari tataran latar, bahwa novel tersebut adalah novel yang realis dapat juga terlihat dari persoalan-persoalan yang terjadi pada cerita di dalamnya. Kita ketahui persoalan yang sangat realistik pada novel tersebut adalah persoalan “uang”. Uang-lah yang membuat Ay Tjeng kehilangan Marsiti, nyai yang sangat dicintainya, sehingga dia “rela” meninggalkan Marsiti hanya karena ingin “mematuhi” orang tuanya yang menjodohkannya dengan Gwat Nio demi kekayaan. Kwee Tek Hoay membuat dunia seperti yang “sewajarnya” dan “apa adanya”.


disarikan oleh

Heri Isnaini

Kamis, 16 Februari 2023

Resensi Buku: Membidas Citra Manusia dalam "Mantra Orang Jawa"


 

 

 

Judul: Mantra Orang Jawa

Penulis: Sapardi Djoko Damono

Penerbit: Gramedia

Tahun: Mei, 2020

Tebal: viii+66 halaman

ISBN: 9786020642932

 

Kepergian maestro sastra Indonesia, Sapardi Djoko Damono, 19 Juli 2020 meninggalkan tangis dan duka yang mendalam sebab tidak banyak sastrawan Indonesia yang memiliki kemampuan seperti SDD, sebutan untuk Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, Guru Besar Sastra, Universitas Indonesia. SDD sudah menulis banyak karya, seperti puisi, cerpen, novel, karya terjemahan, teori sastra, esai, dan tulisan-tulisan yang lain. Tulisan-tulisan SDD seringkali bersinggungan dengan budaya Jawa. Hal ini tidak terlepas dari latar belakang budaya SDD sendiri yang lahir di Surakarta, 20 Maret 1940. Budaya Jawa sangat kental dalam karya-karyanya.

Mantra Orang Jawa merupakan sehimpun puisi karya SDD yang diambil dari tradisi masyarakat Nusantara (termasuk tradisi pada masyarakat Jawa), yakni mantra. Dalam pengantar buku ini SDD menuliskan “Mantra yang ditulis kembali dalam buku ini berasal dari berbagai sumber, lisan maupun tulisan, yang umur dan asal-usulnya tidak mungkin lagi -dan tidak perlu- ditelusuri. SDD menyadari bahwa tradisi mantra pada masyarakat Jawa sangat kental dan dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.

Sehimpun puisi pada Mantra Orang Jawa terdiri atas 59 puisi yang dijelaskan oleh penulisnya berasal dari warisan leluhur. “Konon, di zaman lampau mantra memiliki kekuatan yang bisa dimanfaatkan nenek moyang kita untuk berbagai keperluan hidup sesuai dengan maksudnya”, begitu tulis SDD. Artinya, ke-59 puisi dalam buku ini menjadi menarik karena mengandung konsep teks mantra dalam tradisi lisan. Salah satu ciri teks dalam tradisi lisan yang disebutkan oleh Danandjaja (2002: 46) adalah kata dan kalimat dalam puisi lisan tidak berbentuk bebas (free phase) melainkan terikat (fix phase). Artinya, ada konvensi dalam tradisi mantra, seperti ada diksi yang menunjukkan tujuan mantra; ada perulangan kata atau bunyi; ada daya sugesti melalui kata dan kalimat tertentu; dan ada efek magis ketika dibaca, terutama ketika dibaca nyaring. Puisi-puisi dalam Mantra Orang Jawa sudah memenuhi kriteria tersebut.

“Dalam buku ini (mantra) telah saya jadikan puisi, tidak perlu dikait-kaitkan dengan maksud penciptaannya dulu, meskipun tetap harus dilisankan” Tulis SDD masih dalam kata pengantar buku ini. Dengan kata lain, SDD ingin menunjukkan puisi-puisi yang ada dalam Mantra Orang Jawa masih dianggap memiliki tradisi kelisanan dan ada beberapa ketentuan yang menunjukkan bahwa puisi yang digubah SDD memang berasal dari tradisi lisan.

Berangkat dari pembahasan tersebut, puisi-puisi yang dihimpun dalam Mantra Orang Jawa dapat dimaknai sebagai proses membidas citra manusia Jawa dalam memaknai hidup dan kehidupan. Hidup, bagi masyarakat Jawa, dapat dipahami sebagai perjalanan menuju tujuan hidup, yakni Tuhan. Perjalanan ini seringkali diwujudkan dengan metafora seperti perjalanan air menuju samudera. Perjalanan yang panjang dan penuh liku itu akan dibangun melalui kesadaran sangkan paraning dumadi (asal usul manusia). Kesadaran ini dapat dilihat dari 3 fase kehidupan manusia, yakni: kelahiran, kehidupan, dan kematian.

Puisi-puisi dalam Mantra Orang Jawa merepresentasikan ketiga fase tersebut. Puisi pertama dalam kumpulan ini adalah puisi Asal-Muasal Manusia” dan “Mantra Hari Lahir”. Kedua puisi tersebut jelas merepresentasikan kesadaran akan asal permulaan manusia, yakni proses kelahiran.

 

tak terbatas nama air

dari suci alir air

bagai intan ombak air

inti intan zat air

raja intan sempurnanya air

(Damono, 2020: 1)

 

            Larik-larik tersebut berasal dari puisi “Asal-Muasal Manusia) yang menjelaskan bahwa air merupakan zat yang mengawali proses kelahiran manusia, atau yang menjadi musabab adanya manusia. Air yang menjadi asal-usul manusia adalah air suci yang mangalir  (larik kedua). Air tersebut merupakan inti dari zat air. Dalam terminologi Islam, air adalah zat yang menjadi pokok hadirnya kehidupan. Seperti dijelaskan pada surat al-Anbiya ayat 30  “Kami ciptakan dari air segala yang hidup”, termasuk asal-usul manusia yang diciptakan dari saripati tanah (air mani). Larik-larik berikut dapat memperjelas posisi air dalam konteks ini.

Fase kehidupan menjadi fase kedua setelah manusia dilahirkan, fase ini akan dilalui oleh manusia sangat beragam, sesuai dengan jatah umur yang diberikan Tuhan. akan tetapi fase kehidupan ini dibangun dengan proses, sehingga fase ini adalah fase yang paling panjang, karena di dalamnya terdapat rintangan dalam mencapai tujuan. Dalam buku ini, ada banyak puisi yang merepresentasikan proses kehidupan, yakni menggambarkan keinginan-keinginan manusia, seperti pada puisi: “Mantra Agar Dikasihi”, “Mantra Pengasihan”, “Mantra Sakit Encok”, “Mantra Menyapih Anak”, “Mantra Bersenggama”, sampai pada puisi yang ditujukan untuk memperoleh kekuatan, seperti “Mantra Menggenggam Kilat” dan “Aji Limunan”. Pada fase ini citra manusia Jawa diwujudkan dengan banyaknya keinginan yang harus terwujud dengan bantuan kekuatan di luar dirinya. Kesadaran akan kelemahan diri, merupakan salah satu bentuk citra manusia Jawa.

Fase ketiga adalah fase kematian. Fase ini adalah fase akhir dalam konsep ajaran mistik sangkan paraning dumadi dan merupakan awal dari perjalanan menapaki tujuan kehidupan, yakni Tuhan. Kematian  pada masyarakat Jawa dimaknai sebagai permulaan kehidupan karena ada konsep urip sajroning mati (hidup di dalam kematian). Kesadaran ini merupakan kesadaran yang tingi dalam memahami hidup, kehidupan, dan Yang Mahahidup. Dalam buku ini puisi ke-59 merepresentasikan citra kesadaran manusia Jawa dalam memahami kematian. Puisi dengan judul “Mantra Menjelang Tidur” menggambarkan konsep tersebut.

 

aku berniat tidur

berkasur raga

berbantal nyawa

berselimut sukma

dijaga para bidadari

nikmat mulia sejati

            (Damono, 2020: 64)

 

Puisi tersebut dengan jelas menjadi bagian untuk pemahaman konsep kematian dalam kesadaran citra manusia Jawa menggapai tujuan dari kehidupan, yakni /nikmat mulia sejati/.

Buku puisi Mantra Orang Jawa sangat relevan dalam membidas citra manusia Jawa dalam memahami hidup dan kehidupan. Melalui diksi yang sederhana, SDD menjadikan mantra tidak mistis lagi, melainkan menjadi puisi romantis dan berwibawa. Sebagai penutup, saya kutip tulisan SDD dalam postliminaries buku Mantra Orang Jawa “Jika dalam masyarakat lampau orang percaya akan khasiat mantra Jawa, yang saya tulis kembali ini harap dianggap sebagai puisi yang disesuaikan dengan sejumlah ciri bentuk mantra Jawa. Namun jika ada yang berniat megembalikannya pada fungsinya semula, sila saja. Siapa tahu bisa kesampaian juga maksudnya”.



-Tulisan ini saya dedikasikan untuk Mahaguru, Sapardi Djoko Damono, semoga tenang di Samudera Illahi, Alfatihah..-

 


disarikan oleh

Heri Isnaini

Senin, 13 Februari 2023

Sejarah Pendidikan di Indonesia

sumber gambar: https://www.websitependidikan.com/

 

disarikan oleh

Yulia Herliani (Guru SMK Profita Bandung)


Pembahasan mengenai pendidikan di Indonesia selalu menarik untuk didiskusikan. Banyak hal yang menjadikan pendidikan di Indonesia begitu kompleks dan selalu dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah. Pada zaman Van Den Bosch (1830-1834) Pemerintah kolonial Belanda membuka sekolah-sekolah untuk keperluan tanam paksa karena mereka memerlukan pegawai yang bisa membaca dan menulis. Pendidikan pada zaman ini masih terbatas untuk pribumi priyayi dan bangsa Belanda yang ada di Nusantara.

        Pada tahun 1892, pemerintah kolonial Belanda membuka sekolah rendah yang diperuntukkan untuk pribumi dan bangsa Belanda. Sekolah tersebut dibagi menjadi 2 macam, yakni Sekolah kelas 2 diperuntukkan pribumi priyayi dengan lama pendidikan 3 tahun yang difokuskan pada pembelajaran berhitung, menulis, dan membaca. Sekolah kelas 1 diperuntukkan bangsa Belanda dengan lama pendidikan 7 tahun yang difokuskan pada pembelajaran ilmu bumi, sejarah, ilmu hayat, menggambar, dan ilmu mengukur tanah. Bahasa pengantar di sekolah-sekolah pada masa itu adalah bahasa Melayu dan Belanda.

        Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, pelaksanaan pendidikan di Indonesias harus berdasarkan UUD 1945. Pada Desember 1945 dibentuklah Panitia Penyelidikan Pendidikan oleh Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (PP dan K). Pada masa ini, pendidikan di Indonesia mengalami penyempurnaan. Tujuan pendidikan dan pengajaran di Indonesia adalah membentuk manusia Indonesia yang susila, cakap, demokratis, bertanggung jawab demi kesejahteraan masyarakat dan tanah air.

        Pelaksanaan pendidikan pada masa Orde Baru didasarkan pada Falsafah Negara Pancasila dengan Ketetapan MPRS No. XXVI/MPRS/1966 Bab II yang bertujuan membentuk manusia Pancasialis sejati berdasarkan UUD 1945 dan isi UUD 1945. Pendidikan pada masa reformasi melalui UU No 22 tahun 1999 pendidikan menjadi sektor pembangunan yang didesentralisasikan. Pemerintah memperkenalkan model “Manajemen Berbasis Sekolah”. Sementara untuk mengimbangi kebutuhan akan sumber daya manusia yang berkualitas, maka dibuat sistem “Kurikulum Berbasis Kompetensi”.

        Pada tahun 2003 UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) menggantikan UU No. 2 tahun 1989 yang mengubah konsep pendidikan sehingga pendidikan dapat dipahami sebagai "usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan susasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangakan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

        Usaha dan upaya yang dilakukan untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia terus dilakukan dengan penyempurnaan-penyempurnaan perangkat pendidikan, di antaranya kurikulum. Penggunaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Kurikulum 13 (Kurikulum tahun 2013), dengan berbagai revisinya serta Kurikulum Merdeka) adalah bagian dari upaya dan usaha dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Adapun banyak kekurangan di sana sini adalah bagian dari proses dan dinamika dalam menghadapi tantangan di bidang pendidikan. Intinya, pendidikan harus berpedoman pada konsep "memanusiakan manusia secara utuh, seutuh-utuhnya". Apa pun dan bagaimana pun kurikulumnya.

Seri Kuliah: Sejarah, Kedudukan, dan Fungsi Bahasa Indonesia

sumber gambar: https://www.kompasiana.com/



Silakan unduh PPT pada tautan berikut:

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

https://docs.google.com/presentation/d/14r-rn-8NXjy9K0GL6QUupv0KVdFrHQOT/edit?usp=sharing&ouid=101156531804308666788&rtpof=true&sd=true
 

Cerpen: Makam Keramat Mbah Uyut

Baca cerpen lengkapnya di tautan berikut https://tebuireng.online/makam-keramat-mbah-uyut/